1Kane berdiri, lalu berkata dengan tegas kepada seluruh anggotanya. "Fokus pada misi, sebisa mungkin kita menghindari kontak dengan mereka. Kalau mereka mengganggu misi kita, akan kita pastikan mereka menyesalinya."

Lala, yang berdiri tidak jauh dari mereka, mendengar percakapan itu dan melirik ke arah kakeknya. "Penduduk asli? Kalau begitu, ayah mungkin sudah bertemu dengan mereka," bisiknya.

"Bisa jadi, Ayahmu mungkin ada bersama mereka," jawab Kakek dengan nada rendah. "Tapi mereka juga bisa menjadi ancaman. Kita harus tetap waspada. Lihat jejak itu, mengarah ke tempat yang sama dengan tujuan kita dan jumlah mereka tidak sedikit."

"Kita harus waspada! Jejak kaki mereka menunjukkan jumlah mereka sangat banyak, dan dari barisannya mereka terlihat sangat terorganisir." Kane mengingatkan.

"Komandan, coba lihat jejak ini. Makhluk apa yang memiliki jejak sebesar ini? Dan jumlahnya lebih dari satu." tanya salah satu prajurit sambil menunjuk ke sebuah arah di tanah. Terlihat bekas jejak kaki besar dan dalam. Dari bentuk dan arahnya, terdapat beberapa makhluk dan mereka berjalan satu rombongan dengan suku tersebut.

Kane lama berpikir,"Pulau ini tidak sesederhana yang diperkirakan. Banyak rahasia di dalamnya." batinnya.

"Lanjutkan perjalanan. Misi kita menemui Milo. Kita akan hadapi dan musnahkan siapapun yang menghalangi misi kita." Kata Kane tegas.

Perangkat navigasi di tangan Kane terus bergetar dengan informasi yang tak stabil. Layar menunjukkan grafik kasar peta pulau itu. Dari sinyal terakhir yang berhasil mereka rekam sebelum komunikasi terputus, mereka tahu pulau ini cukup luas, dikelilingi lautan yang tak berujung.

"Tidak ada tempat lain," gumam Kane sambil mengamati peta. "Hanya ada pulau ini dan laut yang tak berujung. Profesor Milo tidak akan bisa melarikan diri dari kita."

Salah satu prajurit menatapnya dengan wajah cemas. "Komandan, kalau kita benar-benar terjebak di sini, bagaimana kita akan kembali?"

"Kita fokus pada misi," jawab Kane dengan tajam. "Temukan Milo dan formula itu. Setelah itu, kita pikirkan cara keluar dari sini."

Lala mendengus, berkata dengan nada sinis. "Bagus sekali rencanamu. Ambil formula, dan mati terjebak di sini. Sangat brilian."

Kane melotot ke arahnya. "Aku tidak membutuhkan ceramah darimu. Lakukan tugasmu atau aku pastikan kau tak akan punya waktu untuk bicara lagi."

Lala menggigit bibirnya, menahan amarah. Kakeknya hanya menepuk lengannya pelan, meminta Lala tetap tenang.

Saat mereka melanjutkan perjalanan, suara gemerisik air terdengar dari kejauhan. Ketika mereka mendekati sungai yang lebar dan keruh, salah satu prajurit tiba-tiba berteriak. "Komandan! Lihat di sana!"

Seekor buaya raksasa muncul di tepi sungai, tubuhnya panjang lebih dari lima meter, dengan sisik keras yang memantulkan cahaya redup. Matanya menatap tajam ke arah mereka, seperti sedang mempertimbangkan apakah kelompok itu adalah mangsa yang mudah.

Kane mengangkat senjata lasernya tanpa ragu. "Semua mundur. Aku akan mengurus ini."

Satu tembakan meluncur, mengenai sisi kepala buaya itu. Hewan besar itu langsung terbunuh dengan bekas ledakan kecil dan luka bakar membekas di kepalanya..

"Luar biasa, buaya ini sangatlah besar" gumam salah satu prajurit, terkesan.

"Berhenti kagum," balas Kane dingin. "Kita tidak tahu mengenai pulau ini, banyak bahaya disekitar kita, dan bisa jadi pulau ini penuh dengan hal seperti itu. Tetap fokus."

"Kane, bisakah kita berhenti untuk minum?" Tanya Lala kepada Kane sambil melirik kakeknya. Meski kakeknya terlihat kuat, Lala khawatir dengan usianya.

"Apakah air ini bisa kita minum?" kata salah satu prajurit wanita, mendekati sisi sungai.

Salah satu prajurit mengeluarkan salah satu peralatan dari ranselnya, setelah mengambil sedikit air untuk bahan uji coba, dia langsung memasukkannya ke sebuat alat. "Air ini aman untuk diminum. Tidak ada kandungan yang berbahaya. Botol minum kita dapat membunuh bakteri yang ada. agar air menjadi lebih bersih."

Segera mereka mengisi botol minum dan melanjutkan perjalanan kembali. Sepanjang perjalanan, kelompok itu bertemu dengan berbagai hewan yang ukurannya jauh lebih besar dari biasanya. Namun ada juga yang memiliki ukuran normal seperti di tempat mereka. Selain itu semakin ke arah barat, mereka juga menemukan berbagai tanaman berbahaya.

"Komandan, jejak langkah ini jelas menunjukkan arah yang sama dengan kita." Kata Darius, salah satu prajurit.

"Pulau ini sangat menarik, tidak biasa. Ukuran binatang ini ada yang memiliki kesamaan dengan tempat kita, tapi tidak sedikit binatang yang memiliki perbedaan dari sisi ukuran dan kekuatan." gumam Freya, salah satu prajurit wanita terkuat Kane sambil memperhatikan salah satu hewan yang mereka bunuh.

"Kau baru menyadarinya sekarang, Freya?" balas Lala sarkastik.

Kane tetap berjalan di depan, tidak menghiraukan percakapan itu. Namun langkahnya berhenti ketika mereka sampai di sebuah padang kecil di dalam hutan. Di sana, seekor beruang raksasa dengan bulu coklat gelap tengah berdiri, mencakar batang pohon dengan kuku tajamnya.

"Komandan," bisik salah satu prajurit sambil menyiapkan senjatanya untuk bersiap menembak beruang raksasa tersebut.

"Komandan, kali ini biarkan aku yang membunuhnya. Aku akan menembak tepat di bagian kepalanya agar langsung mati. " Bisik Kael, prajurit lainnya.

Namun Kane menyeringai, meletakkan senjatanya ke tanah. "Tidak. Aku butuh pemanasan. Turunkan senjata kalian."

"Aku sudah lama tidak menggerakkan badan. Aku perlu menggerakkan sedikit tubuhku." Kata Kane sambil melakukan gerakan peregangan.

Kane mengambil pisaunya, bergerak perlahan mendekati beruang itu. Hewan besar itu segera menyadari kehadirannya, berbalik, dan menggeram dengan suara menggetarkan.

"Bunuh dia komandan,!" seru salah satu prajurit menyemangati komandannya.

"Binatang seperti ini pasti dengan mudah di bunuh komandan." Seru yang lainnya.

Kane yang memiliki kekuatan fisik besar dan memiliki banyak pengalaman tempur, menganggap beruang itu sebagai sebuah mainan untuk dia berlatih, namun pengalaman hidupnya mengajarkan untuk jangan pernah meremehkan musuhnya.

Beruang itu maju, cakarnya menyapu ke arah Kane dengan kecepatan mengejutkan. Namun Kane menghindar dengan lincah, menikam sisi tubuh beruang itu dengan pisaunya. Hewan itu meraung, melompat mundur, lalu menyerang lagi dengan lebih ganas.

Serangan beruntun dari beruang membuat Kane terus bergerak, menari di sekitar hewan besar itu dengan gerakan terlatih. Setiap kali cakarnya meleset, Kane menyelinap masuk untuk memberikan serangan cepat ke sisi tubuh beruang.

Setiap kali Kane berhasil menghindar, beruang itu semakin marah dan mengamuk. Serangannya semakin ganas dan cepat. Setiap gerakannya seolah akan menghancurkan musuhnya dalam sekali serangan. Namun Kane tetap menghindarinya dengan mudah.

"Hanya itukah kekuatanmu? Sudah cukup untuk kita bermain-main." Kata Kane sambil menusukkan pisaunya ke bagian-bagian vital di tubuh beruang.

"Serang terus komandan!" Teriak salah satu prajurit yang terlihat terkesan dengan kemampuan bertarung komandannya.

Setelah beberapa menit bertarung, Kane akhirnya berhasil menjatuhkan beruang itu dengan tusukan tepat di lehernya. Hewan besar itu roboh ke tanah dengan suara keras, napasnya melemah sebelum akhirnya berhenti.

Kane berdiri di atas tubuh beruang, napasnya memburu. Ia menoleh ke arah kelompoknya, menyeringai penuh kemenangan. "Kamu lihat ini Lala, beginilah nasib untuk siapa saja yang berani menghalangi kami ?" katanya dengan nada mengejek.

"Kau sungguh kuat, Komandan," gumam salah satu prajurit, meskipun jelas ada rasa kagum di wajahnya.

Mereka semua sangat mengagumi kekuatan dan kecepatan komandan mereka. Selama mereka menjalankan misi di bawah pimpinan Kane, mereka tidak pernah gagal menjalankan misi berkat kemampuan Kane dalam memimpin. Semua musuh-musuhnya selalu dibantai habis dengan kekuatannya sendiri. Komandan mereka adalah petarung sejati.

Setelah pertarungan itu, kelompok mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati. Setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke pulau misterius ini, di mana rahasia besar menunggu untuk terungkap. Di antara pohon-pohon tinggi, sesuatu yang besar dan berbahaya seolah sedang mengawasi mereka.

Beberapa hari setelah mereka memasuki hutan, kelompok Kane mulai terbiasa menghadapi binatang-binatang besar dan lingkungan yang aneh di pulau ini. Namun, suasana berubah ketika salah satu prajurit yang berjalan di depan berhenti mendadak, mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk berhenti.

“Komandan,” katanya dengan suara rendah namun tegang. “Lihat itu.”
